Duh, Kok Bisa Gitu Ya? Begini Cara Jaga Diri Biar Nggak Mudah ‘Dipersoalkan’ Orang Lain

Duh, Kok Bisa Gitu Ya? Begini Cara Jaga Diri Biar Nggak Mudah 'Dipersoalkan' Orang Lain

Duh, Kok Bisa Gitu Ya? Begini Cara Jaga Diri Biar Nggak Mudah ‘Dipersoalkan’ Orang Lain

Sering Ngerasa ‘Digugat’ Kemampuan Kita? Santai Dulu, Yuk!

Pernah nggak sih, lagi enak-enak kerja, tiba-tiba ada yang nanya, “Yakin kamu bisa ngerjain ini?” atau bahkan lebih parah, “Hmm, kamu ini kayaknya kurang cocok deh buat ngurusin ini.” Rasanya tuh kayak ditagih utang sama hutang rasa minder, ya kan? Jujur saja, saya pernah banget ngalamin posisi kayak gitu. Dulu waktu pertama kali dapat proyek besar, atasan saya sempat ragu, sempat ngasih sinyal kalau dia sebenarnya punya kandidat lain yang lebih ‘mapan’. Aduh, rasanya pengen ngilang aja dari muka bumi sesaat.

Nah, kalau pengalaman Trump yang katanya meragukan kelayakan salah satu kolega politiknya ini benar adanya, bisa jadi itu adalah cerminan dari dinamika yang sering terjadi di sekitar kita. Cuma bedanya, di dunia politik, taruhannya besar sekali. Tapi, apa hubungannya ini sama kesehatan? Jelas ada! Kesehatan kita bukan cuma soal fisik, tapi juga soal mental. Gimana kita menyikapi keraguan orang lain, gimana kita membangun kepercayaan diri, itu semua bagian dari ‘kesehatan’ diri kita secara menyeluruh. Yuk, kita bedah pelan-pelan gimana caranya biar kita nggak gampang ‘dipersoalkan’ orang lain.

Bangun Benteng Kepercayaan Diri: Fondasi Paling Penting

Pertama-tama, yang paling krusial adalah membangun fondasi diri yang kuat. Ini bukan tentang jadi sombong atau merasa paling benar, tapi lebih ke arah mengenal diri sendiri dengan baik. Apa kelebihan kita? Apa kekurangan kita? Kalau kita sudah tahu persis apa yang bisa kita lakukan dan di mana batasan kita, orang lain akan susah menggeser keyakinan kita. Coba deh, bikin daftar 5-10 kelebihan yang kamu punya. Nggak perlu muluk-muluk, yang simpel-simpel aja. Misalnya, “Saya telaten kalau mengerjakan detail,” atau “Saya pandai mendengarkan keluhan orang lain.” Kalau sudah punya daftarnya, baca pelan-pelan setiap pagi. Biar masuk ke alam bawah sadar kita.

Saya ingat waktu itu pernah ikut pelatihan public speaking. Awalnya, saya takut banget ngomong di depan umum. Suara gemetar, keringat dingin, pokoknya campur aduk deh. Tapi, pelatihnya bilang gini, “Kamu nggak perlu jadi orang lain. Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri.” Kalimat itu jadi pegangan saya. Setiap kali mau tampil, saya ngingetin diri sendiri, “Oke, aku nggak harus sempurna, tapi aku harus jujur, jelas, dan menyampaikan apa yang aku tahu.” Ternyata, kejujuran dan ketulusan itu jauh lebih meyakinkan ketimbang kepura-puraan.

Perkuat ‘Arsenal’ Pengetahuan dan Keterampilan

Orang cenderung meragukan sesuatu yang mereka tidak pahami sepenuhnya. Nah, kalau kita sendiri sudah menguasai bidang kita, apa yang mereka ragukan? Ibarat mau debat, kalau kita sudah hafal semua argumen lawan dan punya bantahan yang kuat, kita nggak akan gentar kan? Ini berlaku di dunia profesional maupun kehidupan sehari-hari.

Kalau kamu merasa ada bagian dari pekerjaanmu yang bikin orang lain ragu (atau bahkan bikin kamu sendiri ragu), itu tandanya kamu perlu ‘upgrade’. Ikut kursus singkat, baca buku, atau kalau perlu, ngobrol sama orang yang lebih ahli. Kebetulan, saya baru saja selesai membaca buku tentang manajemen waktu. Kelihatannya sepele, tapi ternyata banyak sekali strategi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan produktivitas. Salah satunya adalah teknik Pomodoro, bekerja selama 25 menit fokus penuh, lalu istirahat 5 menit. Saya coba dan hasilnya lumayan terasa. Laporan yang biasanya molor jadi lebih cepat selesai.

Bukan Soal ‘Menang’ Debat, Tapi Menemukan Keseimbangan

Kadang, kita terlalu fokus untuk ‘membuktikan’ diri ke orang lain. Padahal, yang terpenting adalah keyakinan pada diri sendiri. Nggak semua orang harus setuju sama kita, dan itu nggak apa-apa. Yang penting, kita tahu kita sudah berusaha maksimal dan bertindak sesuai prinsip. Kalaupun ada kritik yang membangun, terima dengan lapang dada. Tapi, kalau kritiknya hanya sekadar mengurangi kepercayaan diri tanpa dasar yang kuat, ya sudah, anggap saja angin lalu.

Menurut saya, ini adalah bagian dari menjaga kesehatan mental kita. Terlalu banyak memikirkan apa kata orang lain bisa menguras energi dan bikin kita stres. Jadi, belajar untuk menyaring mana masukan yang berharga dan mana yang tidak. Kalaupun ada yang akhirnya memutuskan kita tidak layak untuk sesuatu, jangan berkecil hati. Mungkin, itu bukan tempat terbaik untuk kita. Akan ada kesempatan lain di mana kemampuan kita akan lebih dihargai. Apa pendapatmu tentang ini? Pernah mengalami situasi serupa?

Baca juga:

editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *