Dunia Makin Sibuk, Pikiran Ikut Lari Kencang?
Pernah nggak sih kamu merasa seharian pikiranmu itu kayak dikejar deadline, padahal status WhatsApp-mu cuma ‘lagi santai’? Kebanyakan dari kita mengalami hal serupa. Aktivitas yang padat, informasi yang banjir, sampai tekanan sosial, semuanya bisa bikin kepala rasanya penuh. Nah, kabar baiknya, para ahli kesehatan mental di Indonesia, khususnya dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Banten, baru saja menggelar musyawarah wilayah untuk memperkuat kolaborasi layanan mereka. Ini artinya, mereka makin serius memikirkan cara supaya kita semua bisa punya ‘rumah’ yang nyaman untuk pikiran kita.
Bagaimana tidak penting? Kesehatan mental itu fondasi dari segalanya. Tanpa pikiran yang jernih, kita susah dong mau kerja optimal, menikmati hubungan sama orang terkasih, atau bahkan sekadar menikmati secangkir kopi di pagi hari. Jujur saja, saya sendiri pernah mengalami fase burnout yang parah. Rasanya semua energi terkuras habis sampai hal-hal kecil pun terasa berat. Syukurlah, saat itu saya dapat dukungan dan saran untuk mulai menata ulang prioritas dan menjaga ‘ruang’ mental.
Yuk, Mulai Dari Diri Sendiri!
Mendengar kabar tentang penguatan kolaborasi layanan kesehatan mental memang melegakan. Tapi, sambil menunggu layanan itu makin merata dan terjangkau, kita juga bisa lho mulai dari diri sendiri. Ibaratnya, kita ini punya ‘kebun pikiran’ yang perlu dirawat.
Pertama, coba deh mulai dengan kesadaran diri. Kenali apa yang bikin kamu merasa bahagia, apa yang bikin cemas, dan apa yang bikin jengkel. Nggak perlu jadi psikolog untuk ini. Cukup luangkan waktu sebentar setiap hari – mungkin sambil minum teh – untuk bertanya pada diri sendiri, ‘Gimana perasaan aku hari ini?’ Kalau ada yang mengganjal, coba tuliskan di jurnal. Menulis itu surprisingly ampuh lho untuk mengeluarkan unek-unek.
Kedua, jangan remehkan kekuatan koneksi sosial. Di tengah perkembangan teknologi yang bikin kita gampang terhubung tapi kadang malah merasa kesepian, penting banget untuk punya ‘support system’ yang nyata. Ceritalah sama teman dekat, keluarga, atau pasangan. Kadang, sekadar didengarkan saja sudah membuat beban terasa lebih ringan. Kebetulan sekali, beberapa waktu lalu saya bertemu teman lama yang sedang kesulitan. Kami hanya duduk ngobrol di taman selama satu jam, tanpa banyak nasihat, tapi dia bilang itu sangat membantu. Makanya, luangkan waktu berkualitas untuk orang-orang terdekat.
Ketiga, perhatikan asupan fisik. Iya, fisik dan mental itu nyambung banget. Sulit rasanya kalau badan kita lelah, kurang tidur, atau pola makannya berantakan, tapi kita berharap pikiran tetap waras. Pastikan kamu cukup istirahat, bergerak badan setiap hari – nggak perlu langsung nge-gym kok, jalan santai keliling kompleks juga bagus – dan makan makanan yang bergizi. Tubuh yang sehat adalah rumah yang nyaman untuk pikiran yang sehat juga.
Memperkuat Imunitas Mental Melalui Hal Kecil
IPK Banten tentu punya program-program besar untuk memperkuat layanan kesehatan mental. Tapi, sebagai individu, kita juga punya peran. Menguatkan ‘imunitas mental’ kita itu bukan berarti kita jadi kebal dari masalah, bukan. Justru, kita jadi lebih siap dan tangguh saat masalah itu datang.
Salah satu cara mudah yang bisa kamu coba adalah teknik grounding. Kalau lagi merasa cemas atau panik, coba rasakan 5 benda di sekitarmu, dengarkan 4 suara yang bisa kamu tangkap, sentuh 3 benda, cium 2 aroma, dan rasakan 1 rasa di mulutmu. Ini membantu mengembalikan fokusmu ke momen sekarang, bukan tenggelam dalam pikiran negatif.
Hal lain yang menurut saya penting adalah menetapkan batasan. Belajar bilang ‘tidak’ itu keterampilan penting. Tidak untuk membebani diri dengan pekerjaan yang tidak sanggup, tidak untuk menyenangkan semua orang, dan tidak untuk terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Ini memang nggak mudah, perlu latihan. Tapi, demi kesehatan mentalmu, ini wajib hukumnya.
Jadi, apa nih yang bakal kamu coba pertama kali untuk merawat ‘kebun pikiran’mu mulai hari ini? Ingat, langkah kecil pun berarti besar kalau dilakukan konsisten.
Baca juga:
Leave a Reply