Seru Juga Ternyata, Kalau Semua Pihak Ikut Gercep Jaga Gizi!
Beberapa waktu lalu, saya iseng ngobrol sama teman yang kerja di Puskesmas. Dia cerita, betapa pusingnya kadang menangani masalah gizi yang itu-itu saja, mulai dari balita kurang gizi sampai ibu hamil anemia. Katanya, kalau cuma mengandalkan program dari dinas kesehatan saja, rasanya seperti gayung bersambut tapi tak pernah sampai. Nah, dari obrolan singkat itu, terlintas di benak saya sebuah pemikiran: kok ya benar juga ya? Semakin ke sini, tampaknya semakin terang benderang bahwa urusan kesehatan, apalagi yang sifatnya mencegah penyakit datang, itu tak bisa hanya jadi tanggung jawab satu pihak saja.
Kalau kita bicara tentang program gizi dan kesehatan preventif di Indonesia, seringkali yang terbayang adalah sosialisasi vitamin A, posyandu yang ramai, atau kampanye cuci tangan pakai sabun. Hal-hal ini tentu penting, fundamental malah. Tapi, pernahkah kita memikirkan, bagaimana nasib ‘pesan’ kesehatan itu kalau yang menyampaikan hanya satu suara? Ibaratnya, memasak gizi seimbang itu butuh banyak bumbu, bukan cuma garam. Butuh kolaborasi!
Kenapa Sih Harus Kompak? Apa Urusannya Sama Nenek Cokin?
Begini, masalah gizi dan kesehatan itu kompleks. Ia bersinggungan dengan banyak hal. Misalnya, balita yang kurang gizi. Apa iya cuma karena kurag pengetahuan soal makanan bergizi? Seringkali, akarnya bisa lebih dalam. Bisa jadi karena kemiskinan yang membuat orang tua sulit membeli makanan bergizi. Bisa jadi karena akses air bersih yang buruk sehingga anak sering sakit dan nutrisi tak terserap optimal. Atau bahkan karena kebiasaan makan yang dibentuk oleh lingkungan, bahkan sampai kebiasaan nenek buysut kita yang mungkin punya pantangan turun-temurun yang keliru.
Nah, di sinilah pentingnya kolaborasi lintas sektor itu. Lintas sektor itu bukan cuma istilah keren buat rapat-rapat. Ini tentang bagaimana berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah di berbagai tingkatan (pusat, daerah, desa), sektor swasta (perusahaan, UMKM), organisasi masyarakat sipil (LSM, pegiat komunitas), sampai ke akademisi (universitas, lembaga riset), bahkan tokoh agama dan adat, bergandengan tangan. Kebetulan kemarin saya baca berita soal ini, dan saya setuju banget. Kuncinya bukan cuma ‘penting’, tapi ini ‘wajib’ kalau mau hasil programnya benar-benar greget.
Contoh Nyata: Dari Sekolah Sampai Pasar Tradisional
Saya membayangkan, coba kalau kurikulum di sekolah tidak hanya mengajarkan sains, tapi juga praktik langsung menciptakan kebun sayur organik di lingkungan sekolah. Ini kan peran sektor pendidikan. Lalu, perusahaan makanan bisa didorong untuk memproduksi camilan sehat yang terjangkau, bukan malah marak keripik singkong dengan penyedap rasa berlebih. Sektor swasta masuk! Pemerintah daerah lewat dinas sosial bisa bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk memastikan keluarga miskin tidak hanya sekadar dapat bantuan sembako, tapi paket sembako yang benar-benar gizinya terjamin dan sesuai anjuran. Ini contoh koordinasi!
Di tingkat komunitas, para ibu PKK atau karang taruna bisa menjadi ujung tombak melakukan edukasi gizi kreatif. Bukan cuma ceramah, tapi mungkin lomba masak menu balita sehat, pembuatan pupuk kompos dari sisa dapur untuk kebun gizi keluarga. Kebetulan lingkungan rumah saya ada yang mulai menggalakkan ini, hasilnya lumayan lho. Anak-anak jadi lebih semangat makan sayur karena mereka terlibat dari menanamnya. Ini contoh gerakan komunitas yang berhasil.
Bukan Cuma Tambal Sulam, Tapi Membangun Fondasi Kuat
Jujur saja, saya kadang merasa prihatin kalau melihat program kesehatan yang seolah hanya tambal sulam. Datang, bergerak sebentar, lalu hilang. Dampaknya sementara. Padahal, membangun generasi yang sehat dan cerdas gizi itu investasi jangka panjang. Bayangkan generasi yang sejak kecil sudah terbiasa makan sehat, punya imunitas kuat, tidak mudah sakit. Produktivitas bangsa akan meningkat, biaya kesehatan juga bisa ditekan. Semuanya berawal dari kesadaran dan aksi bersama.
Jadi, ketika isu kolaborasi lintas sektor ini diangkat, ini bukan sekadar birokrasi atau wacana. Ini adalah pengakuan bahwa setiap elemen punya peran penting. Swasta punya sumber daya, komunitas punya jangkauan akar rumput, akademisi punya riset, dan pemerintah punya regulasi serta kewenangan. Tanpa sinergi, sehebat apapun program dari satu pihak, akan pincang jalannya.
Jadi, Apa Langkah Kita Selanjutnya?
Menurut saya, langkah paling konkret adalah bagaimana kita, sebagai masyarakat, juga ikut menuntut dan berpartisipasi dalam kolaborasi ini. Tanyakan pada wakil rakyat, bagaimana program gizi di daerah kita melibatkan berbagai pihak? Dukung inisiatif komunitas yang bergerak di bidang kesehatan dan gizi. Mulai dari diri sendiri dan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat yang berbasis gizi seimbang. Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Toh, pada akhirnya, tubuh yang sehat itu adalah aset paling berharga, bukan?
Baca juga:
Leave a Reply