Benarkah Anggaran Imajiner Kita Menyusut?
Jadi gini, saya kemarin nemu berita yang lumayan bikin penasaran. Katanya, Direktur Utama BPJS Kesehatan itu ngomong kalau potensi fraud atau semacam penyimpangan biaya di sistem BPJS Kesehatan itu turun jadi sekitar Rp6 triliun. Jujur saja, angka Rp6 triliun itu terdengar fantastis besar ya buat orang awam kayak saya. Tapi, kalau dibilang turun, artinya dulu lebih parah dong? Nah, ini yang bikin saya pengen ngulik lebih dalam.
Bukan apa-apa, sebagai peserta BPJS, saya pribadi pasti berharap uang iuran bulanan kita itu benar-benar dipakai semaksimal mungkin untuk pelayanan kesehatan, bukan untuk hal-hal yang nggak seharusnya. Ibaratnya, kita bayar langganan gym biar sehat, masa uangnya dipakai buat beli kudapan direktur terus? Eh, tapi ini kan BPJS ya, urusannya lebih krusial dari sekadar gym.
Apa Sih Maksudnya ‘Fraud’ dalam Konteks BPJS?
Istilah ‘fraud‘ di sini bisa macam-macam bentuknya. Bukan berarti semua peserta BPJS itu ‘curang’ ya, jangan salah paham dulu. Yang dimaksud Dirut BPJS itu lebih ke potensi biaya-biaya yang mungkin ‘terlebih’ atau ‘tidak semestinya’ terjadi dalam pengelolaan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Contohnya, bisa jadi ada klaim ganda dari rumah sakit, pelaporan tindakan medis yang dilebih-lebihkan, atau bahkan data pasien yang ‘dimainkan’ untuk keuntungan pihak tertentu.
Pernah nggak sih, waktu berobat, denger selentingan cerita dari petugas atau pasien lain tentang sistem yang katanya ‘rewel’ atau ‘susah buat klaim’? Nah, potensi ‘kecurangan’ ini bisa jadi salah satu akarnya. Kalau ini berhasil ditekan, harapan saya sih, seharusnya antrean bisa lebih lancar, obat-obatan lebih siap sedia, dan mungkin juga efisiensi sumber daya yang akhirnya balik lagi ke peningkatan kualitas layanan buat kita.
Pengalaman Pribadi yang Bikin Mikir
Saya sendiri pernah punya pengalaman waktu ibu saya sakit beberapa tahun lalu. Proses klaim BPJS-nya memang lumayan perjuangan. Bolak-balik urus surat, nunggu antrean panjang di puskesmas atau rumah sakit kadang bikin lelah hati. Padahal sakit itu sudah bikin badan nggak karuan. Di titik itulah saya mikir, seandainya sistemnya lebih mulus, pasti beban pasien jadi jauh lebih ringan. Kalaupun ada potensi ‘kebocoran’ dana sebesar itu, bayangkan saja berapa banyak perbaikan yang bisa dilakukan jika dana itu utuh?
Mendengar angka potensi penurunan fraud ini cukup melegakan. Kalau dulu mungkin angkanya lebih tinggi, dan sekarang bisa ditekan sampai Rp6 triliun, itu artinya ada upaya perbaikan yang cukup signifikan. Mungkin ada perbaikan dalam sistem verifikasi klaim, audit yang lebih ketat, atau kerjasama yang lebih baik antara BPJS dan penyedia layanan kesehatan. Menurut saya, ini langkah positif yang patut diapresiasi.
Jadi, Apa Untungnya Buat Kita? Harapan Baru Kah?
Secara teori, penurunan potensi fraud ini harusnya membawa angin segar. Dana yang tidak lagi ‘terbuang’ atau ‘disalahgunakan’ secara potensi bisa dialokasikan untuk hal-hal yang lebih produktif. Mungkin perbaikan fasilitas rumah sakit daerah yang masih minim, penambahan tenaga medis, atau bahkan subsidi iuran bagi warga yang kurang mampu agar bisa tetap terlindungi.
Jujur saja, saya masih sedikit skeptis karena angka Rp6 triliun itu tetap saja besar. Tapi, niat baik dan upaya nyata untuk memperbaikinya itu penting. Kalau kita sebagai peserta bisa sedikit lebih paham tentang bagaimana sistem ini bekerja, dan mungkin ikut menjaga dengan tidak melakukan hal-hal yang berpotensi merugikan sistem (misalnya, meminjamkan kartu BPJS ke orang lain, itu dilarang keras lho!), tentu akan lebih baik.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda punya pengalaman serupa dengan proses BPJS? Dan apakah kabar penurunan potensi ‘biaya siluman’ ini membuat Anda lebih optimis terhadap sistem jaminan kesehatan kita?
Baca juga:
Leave a Reply