Mahasiswa Dulu, ‘Masuk Angin’ Kemudian? Kok Bisa! Yuk, Kita Intip Rahasianya Lewat Deteksi Dini

Mahasiswa Dulu, 'Masuk Angin' Kemudian? Kok Bisa! Yuk, Kita Intip Rahasianya Lewat Deteksi Dini

Mahasiswa Dulu, ‘Masuk Angin’ Kemudian? Kok Bisa! Yuk, Kita Intip Rahasianya Lewat Deteksi Dini

Kuliah Lancar, Badan Juga Harus Prima, Dong!

Jujur saja, begitu dengar kabar soal skrining kesehatan buat mahasiswa, pikiran saya langsung melayang ke zaman kuliah dulu. Sibuk banget, ya? Antara deadline tugas, organisasi, main sama teman, plus mungkin ‘kerjaan sampingan’ nyambi jadi mahasiswa perantauan yang jago masak mie instan. Rasanya, badan sehat itu modal utama. Tapi, kita sadar nggak sih, seberapa sering sebenernya kita ‘ngobrol’ sama badan sendiri buat nanya, ‘Hei, kamu baik-baik saja?’ Kebanyakan sih mungkin nggak terlalu peduli ya, sampai akhirnya ada ‘kejutan’ yang bikin kita harus ekstra perhatian. Nah, menurut Raien (saya asumsikan ini merujuk pada pernyataan dari sumber berita ya), skrining kesehatan semacam ini ternyata jadi semacam ‘alarm’ dini yang penting banget.

Lebih dari Sekadar Cek Suhu

Skrining kesehatan yang dibicarakan itu, kalau menurut interpretasi saya, bukan sekadar pasca-masuk angin lalu dicek suhu. Ini lebih ke arah pemeriksaan menyeluruh. Bayangin aja, di usia produktif kayak mahasiswa, banyak lho perubahan pola hidup yang terjadi. Mulai dari pola makan yang berantakan sepulang dari rumah orang tua ke kost-kostan, begadang sampai subuh demi nonton bola atau ngerjain tugas, sampai mungkin malas gerak karena saking betahnya di depan laptop. Tanpa disadari, semua itu bisa ngumpulin ‘utang’ kesehatan. Raien pun mengakui, deteksi dini itu krusial. Kenapa? Karena kalau ada masalah, sekecil apapun, bisa langsung ditangani. Ibaratnya, mendingan servis mesin mobil dari sekarang daripada nanti mogok di tengah jalan pas lagi butuh-butuhnya.

Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?

Kebetulan sekali, saya punya teman zaman kuliah dulu yang badannya kelihatan sehat-sehat saja. Dia aktif, nggak pernah kelihatan sakit. Tapi ternyata, diam-diam dia punya masalah dengan kolesterolnya yang lumayan tinggi. Dia sendiri baru tahu pas ikut program medical check-up gratis dari kampus pas mau wisuda. ‘Untung ketahuannya sekarang, sebelum jadi penyakit yang lebih serius,’ katanya waktu itu. Nah, momen seperti ini yang Raien dan banyak pihak lain harapkan terjadi lewat skrining. Mahasiswa jadi punya *awareness* tentang kondisi tubuhnya. Bukan cuma soal penyakit yang kelihatan, tapi juga yang tersembunyi. Penting lho, buat membentuk kebiasaan hidup sehat sedari dini. Kebiasaan yang nanti terbawa sampai kita lulus, masuk dunia kerja, dan seterusnya.

Menuju Pola Hidup Sehat yang Nyata

Jadi, apa sih yang ujung-ujungnya didapat dari skrining ini? Tentu saja, kesadaran. Kesadaran itu modal awal perubahan. Ketika mahasiswa tahu bahwa tekanan darahnya sedikit di atas normal, atau kadar gula darahnya perlu diwaspadai, mereka akan lebih termotivasi untuk mengubah kebiasaan. Mungkin mulai dari mengurangi jajan sembarangan, mencoba olahraga ringan seminggu sekali, atau bahkan sekadar memperhatikan durasi tidur. Ini bukan soal hukuman atau larangan ketat, tapi pemberdayaan informasi untuk membuat pilihan yang lebih baik. Kalau ditanya pendapat saya, program skrining semacam ini seharusnya jadi agenda rutin, bukan hanya sesekali. Sama pentingnya dengan mata kuliah wajib kali ya?

Bagaimana menurutmu? Pernah punya pengalaman serupa, atau punya saran jitu biar semangat hidup sehat di kampus tetap menyala?

Baca juga:

editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *