Mata Rasanya Mau Copot? Kenali ‘Sjögren’ Baru Akibat Kebanyakan Layar!

Mata Rasanya Mau Copot? Kenali ‘Sjögren’ Baru Akibat Kebanyakan Layar!

Awalnya Cuma Ngerasa Lelah, Eh Makin Parah!

Jujur saja, saya ini termasuk generasi yang beruntung, masih merasakan masa-masa sebelum semua serba layar. Tapi kalau ditanya soal mata lelah, wah, saya paling jago ceritanya. Dulu, mata lelah itu paling banter karena kebanyakan baca buku di tempat remang-remang atau pas nonton film sampai larut malam. Sekarang? Beda cerita. Sejak pandemi memaksa kita banyak di rumah dan semua aktivitas jadi online, keluhan mata lelah ini rasanya jadi epidemi tersendiri.

Awalnya, saya pikir ini cuma efek samping wajar. Seharian depan laptop buat kerja, sorenya lanjut balas chat di HP, malamnya belum tentu selesai nonton serial kesayangan. Tapi kok makin ke sini makin parah ya? Mata rasanya kering, berpasir, penglihatan kadang buram kayak habis kena embun, dan paling parah, kepala ikut pusing. Saya pernah sampai salah masukin kunci pintu rumah karena pandangan udah nggak fokus.

Kebetulan beberapa waktu lalu, obrolan ringan dengan teman sesama pekerja kantoran berujung pada keluhan yang sama. “Mata gue udah kayak mau copot aja nih, capek banget!” katanya. Nah, dari situ saya jadi penasaran, sebenarnya apa sih yang terjadi sama mata kita?

Bukan Cuma Lelah Biasa: Kenali Ancaman Mata Digital

Ternyata, keluhan yang kita rasakan ini punya istilahnya sendiri, lho. Para ahli menyebutnya sebagai Computer Vision Syndrome (CVS) atau Digital Eye Strain. Ini bukan penyakit langka, tapi kumpulan gejala yang muncul akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan. Layar komputer, laptop, tablet, sampai smartphone, semuanya menyumbang.

Soalnya gini, saat kita fokus menatap layar, kedipan mata kita berkurang drastis. Normalnya, kita berkedip sekitar 15-20 kali per menit. Tapi saat di depan layar? Bisa turun sampai setengahnya! Akibatnya, air mata yang berfungsi melumasi dan melindungi mata jadi nggak terproduksi optimal. Inilah yang bikin mata terasa kering, perih, bahkan kadang sampai iritasi.

Belum lagi soal cahaya biru yang dipancarkan layar perangkat digital. Cahaya ini punya gelombang yang pendek dan energinya cukup tinggi. Paparan jangka panjang, terutama di malam hari, bisa mengganggu ritme sirkadian tubuh (jam biologis) dan yang lebih serius, diduga bisa merusak sel-sel retina mata. Agak ngeri juga ya membayangkannya?

Jangan Biarkan Mata Kita Jadi Korban: Tips Praktis Ala Saya

Menyerah pada nasib mata lelah jelas bukan pilihan. Daripada nanti repot bolak-balik ke dokter mata, mending kita coba cegah dari sekarang. Kalau ditanya pendapat saya, kunci utamanya adalah disiplin dan kesadaran. Ini beberapa hal yang sudah saya coba terapkan dan lumayan membantu:

  • Aturan 20-20-20: Ini andalan banget! Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Saya sering pasang alarm kecil di HP untuk mengingatkan. Lumayan, bikin mata ‘istirahat’ sebentar.
  • Atur Kecerahan dan Kontras Layar: Jangan terlalu silau, jangan terlalu redup. Sesuaikan dengan pencahayaan ruangan. Saya pribadi lebih suka sedikit meredupkan kecerahan layar laptop saya.
  • Gunakan Tetes Mata (Jika Perlu): Kebetulan mata saya cenderung kering, jadi saya selalu sedia tetes mata non-preservasi. Pakai kalau mulai terasa nggak nyaman. Tapi ingat, konsultasi dulu dengan dokter ya!
  • Perhatikan Posisi Layar: Usahakan posisi layar sedikit di bawah garis pandang mata. Ini membantu mengurangi ketegangan pada leher dan mata.
  • Istirahatkan Mata Secara Berkala: Selain aturan 20-20-20, ambil jeda lebih panjang setiap 1-2 jam. Jalan sebentar, minum, atau sekadar pejamkan mata.

Oh ya, jangan lupa juga untuk cukup minum air putih. Dehidrasi bukan cuma bikin badan lemas, tapi juga bisa memperparah mata kering. Kalau saya sih, selalu sediakan botol minum di meja kerja. Jadi, gampang buat diingatkan untuk minum.

Mata Sehat, Hidup Lebih Produktif!

Memang, hidup di zaman sekarang sulit lepas dari gawai. Tapi, bukan berarti kita harus mengorbankan kesehatan mata kita. Dengan sedikit penyesuaian kebiasaan, kita bisa kok menikmati kemudahan teknologi tanpa harus membayar mahal dengan kesehatan penglihatan. Bagaimana menurut Anda? Adakah cara lain yang ampuh untuk menjaga mata tetap sehat di tengah serbuan layar digital?

Baca juga:

editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *