Kenapa Kita Suka Banget Mengintip Hal Buruk di Internet?
Jujur saja, pernahkah kamu tiba-tiba merasa cemas setelah seharian menjelajahi lini masa media sosial? Rasanya seperti ada panggilan tak terlihat yang membuat tangan ini terus bergerak menggulir ke bawah, menemukan satu berita buruk demi satu berita buruk lainnya. Dari bencana alam, ketegangan politik global, hingga drama selebriti yang tak kunjung usai. Entah kenapa, informasi negatif ini selalu berhasil menarik perhatian kita, bahkan sampai membuat kita lupa waktu. Fenomena inilah yang mulai sering disebut sebagai doomscrolling. Kalau ditanya pendapat saya pribadi, ini seperti tarik tambang antara rasa ingin tahu dan keinginan untuk terhubung, tapi ujung-ujungnya malah bikin kita semakin tertekan.
Bukan Sekadar Kebiasaan, Tapi Bisa Bikin Sakit Jiwa
Doomscrolling ini bukan sekadar hobi unik. Implikasinya ke kesehatan mental itu nyata banget. Menurut beberapa studi yang saya baca (dan rasakan sendiri!), terlalu banyak terpapar berita negatif secara terus-menerus bisa memicu berbagai masalah. Mulai dari peningkatan rasa cemas, stres berlebih, suasana hati yang buruk, sulit tidur, sampai rasa putus asa yang mendalam. Bayangkan saja, setiap hari kepala kita dipenuhi dengan hal-hal yang membuat khawatir. Otak kita yang dirancang untuk mendeteksi ancaman jadi bekerja ekstra keras, mengirimkan sinyal bahaya tanpa henti. Padahal, sebagian besar berita itu mungkin tidak secara langsung memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Tapi ya itu, alam bawah sadar kita kadang lebih mudah bereaksi terhadap hal negatif.
Pernah nggak sih, lagi asyik scroll, terus tiba-tiba sadar udah satu jam aja lewat? Dan yang diingat justru berita-berita yang bikin geleng-geleng kepala?
Melawan Godaan Menggulir Berita Bencana
Nah, kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan? Pasrah saja? Tentu tidak. Kita bisa kok, mengambil kembali kendali atas waktu dan keadaan mental kita. Langkah pertama, tentu saja, adalah menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam kebiasaan ini. Mengakui adalah separuh masalah teratasi, kan?
Strategi Cerdas untuk Pikiran yang Lebih Tenang
Beberapa tips sederhana tapi ampuh yang bisa kita coba:
Pertama, jadwalkan waktu khusus untuk mengecek berita. Alih-alih membuka media sosial kapan saja kita punya waktu luang, tentukan saja pagi dan sore hari, misalnya, masing-masing 15 menit. Setelah itu, matikan notifikasi agar tidak terus-menerus tergoda. Kedua, cari konten positif dan menginspirasi. Ikuti akun-akun yang membagikan hal-hal baik, tutorial yang bermanfaat, atau sekadar pemandangan alam yang indah. Algoritma media sosial akan menyesuaikan dengan apa yang sering kita lihat, jadi ubah ‘bahan bakar’ pikiran kita. Ketiga, sadari kapan harus berhenti. Jika merasa mulai cemas, lelah, atau emosional, segera tutup aplikasi. Lakukan aktivitas lain yang membuat kita senang dan rileks, misalnya membaca buku fisik, mendengarkan musik, jalan-jalan sebentar, atau ngobrol langsung dengan teman.
Kebetulan, beberapa minggu lalu saya merasa sangat lelah setelah membaca rentetan berita politik yang bikin pusing. Saya langsung memutuskan untuk menonaktifkan notifikasi berita di ponsel selama seminggu. Rasanya lega sekali! Saya menggantinya dengan membaca novel fiksi dan mencoba resep masakan baru. Ternyata, jeda singkat itu sangat membantu memulihkan energi mental saya.
Kembali Menjadi Master atas Diri Sendiri
Menggulir berita buruk memang seperti candu yang sulit dilepaskan. Tapi, bukan berarti kita tidak berdaya menghadapinya. Dengan kesadaran dan sedikit usaha, kita bisa menciptakan ruang digital yang lebih sehat untuk pikiran kita. Ingat, kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan sampai kita membiarkannya terkuras habis hanya karena keasyikan ‘mengintip’ berita yang sebenarnya tidak membuat kita lebih baik. Bagaimana menurutmu, apa jurus andalanmu untuk melawan godaan doomscrolling?
Baca juga:
Leave a Reply