Tindakan Dokter di Medsos: Antara Profesionalisme dan Empati yang Lupa Diri

Tindakan Dokter di Medsos: Antara Profesionalisme dan Empati yang Lupa Diri

Tindakan Dokter di Medsos: Antara Profesionalisme dan Empati yang Lupa Diri

Saat Stetoskop Bertemu Keyboard

Pernahkah Anda merasa geregetan melihat unggahan seseorang yang seolah sedang ‘menguliahi’ Anda tentang kesehatan, padahal Anda sedang dalam posisi membutuhkan pertolongan? Fenomena ini makin sering terjadi, terutama di ranah media sosial. Kebetulan, beberapa waktu lalu mencuat sebuah kasus yang melibatkan seorang dokter dan pasiennya di dunia maya, sebut saja kasus Yurizal. Kejadian ini membuka mata banyak orang tentang bagaimana batasan profesionalisme tenaga kesehatan bisa teruji ketika berhadapan dengan ‘kekuatan’ media sosial.

Jujur saja, saya sendiri seringkali dibuat bertanya-tanya. Di satu sisi, kita mendambakan tenaga kesehatan yang informatif dan mudah diakses. Informasi kesehatan yang tersaji di media sosial, jika benar, bisa sangat membantu. Tapi, di sisi lain, seringkali muncul pertanyaan: apakah setiap unggahan mereka selalu berangkat dari niat tulus untuk berbagi, atau ada agenda lain di baliknya? Kasus Yurizal ini seperti menampar kita semua, mengingatkan bahwa di balik layar profesionalitas, ada manusia dengan segala emosi dan pemikirannya.

Empati yang Terlupakan?

Dalam kasus Yurizal, yang jadi sorotan adalah bagaimana sang dokter merespons keluhan pasiennya. Komunikasi yang terjadi di ruang publik—media sosial—menjadi bumerang. Alih-alih menunjukkan empati dan pemahaman mendalam terhadap kondisi pasien yang mungkin sedang dalam masa rentan, respons yang diberikan justru terkesan defensif, bahkan cenderung merendahkan. Padahal, inti dari pelayanan kesehatan bukan hanya soal diagnosis dan pengobatan, tapi juga soal bagaimana membangun kepercayaan dan memberikan rasa aman pada pasien.

Menurut saya, empati itu kunci. Ketika seorang pasien datang ke dokter, mereka tidak hanya mencari solusi medis. Mereka mencari telinga yang mau mendengar, hati yang bisa merasakan, dan pikiran yang bisa memberikan harapan. Media sosial, dengan segala kecepatannya, kadang membuat kita lupa esensi ini. Komentar singkat, balasan cepat, atau bahkan sindiran halus di kolom komentar bisa jadi luka tak terlihat bagi seseorang yang sedang sakit. Terlebih lagi jika komentar itu datang dari tenaga medis yang seharusnya menjadi garda terdepan penyembuh.

Media Sosial: Alat atau Senjata?

Kita hidup di zaman di mana media sosial adalah perpanjangan tangan. Semua orang punya suara, punya panggung. Tenaga kesehatan pun tidak terkecuali. Banyak dokter yang saya kagumi aktif di platform digital, berbagi edukasi kesehatan yang sangat bermanfaat, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan umum. Ini bagus! Ini menunjukkan bahwa mereka peduli dan ingin menjangkau lebih banyak orang. Tapi, seperti pisau bermata dua, ia juga bisa digunakan untuk melukai.

Saya ingat pernah mengalami sendiri. Teman saya, sebut saja Bunga, sedang berjuang melawan penyakit autoimun yang cukup langka. Suatu hari, ia memberanikan diri curhat di salah satu grup kesehatan di media sosial, menceritakan kesulitan akses pengobatan dan rasa lelahnya. Bukannya mendapat dukungan, ia malah mendapat komentar pedas dari seorang pengguna yang mengaku punya ‘pengetahuan medis luas’, menuduhnya mengada-ada dan mencari perhatian. Bunga sempat terpuruk. Padahal, yang ia butuhkan saat itu adalah kata-kata penyemangat, bukan penghakiman.

Pelajaran Buat Kita Semua

Kasus Yurizal, dan juga pengalaman Bunga, mengajarkan kita bahwa empati itu universal. Ia bukan hanya milik pasien, tapi juga milik pemberi layanan, termasuk tenaga kesehatan. Di era media sosial ini, mengelola interaksi digital menjadi sebuah keharusan. Profesionalisme harus tetap dijaga, namun bukan berarti menafikan kemanusiaan. Etika digital yang baik, termasuk kemampuan untuk berempati dan berkomunikasi dengan bijak, harus jadi bekal utama.

Bagi tenaga kesehatan, mungkin ini saatnya merefleksikan kembali cara berinteraksi di ruang digital. Apakah setiap unggahan atau balasan sudah mempertimbangkan dampak psikologis bagi penerimanya? Apakah kita sudah benar-benar mendengarkan sebelum merespons? Dan bagi kita sebagai masyarakat, termasuk pasien, bagaimana kita bisa menggunakan media sosial untuk saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan?

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang jiwa. Sentuhan empati, baik di dunia nyata maupun maya, bisa jadi obat yang paling mujarab.

Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda punya pengalaman serupa, baik sebagai pemberi maupun penerima pesan terkait kesehatan di media sosial? Mari berbagi di kolom komentar!

Baca juga:

editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *