Ketika Dokter Memilih Pergi, Siapa yang Menolong Pasien?
Pernahkah terpikir, apa jadinya sebuah negara jika para tenaga medisnya satu per satu angkat kaki? Di Yaman, ini bukan lagi sekadar pertanyaan hipotetis. Ini adalah kenyataan pahit yang melumpuhkan sistem kesehatan. Angka 20 juta jiwa yang terancam kesulitan berobat, menurut laporan, bukanlah sekadar statistik dingin. Di baliknya ada wajah-wajah cemas, rengekan anak yang sakit, dan keputusasaan orang tua yang tak mampu membawa buah hatinya ke dokter.
Bukan Sekadar Pekerjaan, Tapi Panggilan Jiwa yang Tergerus
Jujur saja, menjadi dokter atau perawat itu bukan hal mudah. Bertahun-tahun sekolah kedokteran, pengorbanan waktu, tenaga, dan materi. Tapi, profesi ini biasanya dibarengi dengan panggilan jiwa yang kuat. Menolong sesama, menyembuhkan penyakit, memberikan harapan. Saya membayangkan para dokter muda di Yaman dulu, penuh idealisme, ingin mengabdi pada negerinya di tengah segala kesulitan. Namun, bertahun-tahun konflik berkepanjangan, ekonomi yang hancur, dan minimnya apresiasi, rupanya sanggup mengikis habis idealisme itu.
Kebanyakan dari mereka pergi bukan karena tak cinta tanah air. Mereka pergi demi keluarga. Demi anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak, mendapatkan gizi yang cukup, dan merasakan keamanan. Coba bayangkan, seorang dokter ahli bedah yang punya keahlian langka, terpaksa banting setir jadi sopir taksi di negara lain hanya agar anaknya bisa sekolah. Miris, bukan? Fenomena ini yang kemudian dikenal sebagai brain drain, atau pengurasan otak, dan Yaman jadi salah satu korban terparahnya di sektor kesehatan.
Analogi Sederhana: Kapal Bocor Tanpa Tukang Tambal
Kalau dipikir-pikir, ini seperti kapal yang bocor di tengah lautan. Penumpangnya banyak, tapi tukang tambalnya malah ikut melompat ke sekoci lain. Kapal itu mau tak mau makin tenggelam. Begitulah Yaman. Pelayanannya kesehatan sudah jebol akibat perang dan krisis ekonomi, eh, para petugas medisnya malah pada pergi. Tinggallah pasien-pasien terlantar, penyakit sederhana jadi mematikan karena tak tertangani.
Situasi ini memaksa saya merenung. Seberapa besar nilai sebuah nyawa di mata sistem? Dan seberapa besar pengorbanan yang harus ditanggung seorang tenaga medis profesional yang memilih bertahan di tengah badai?
Menurut saya, ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah Yaman semata. Dunia internasional, organisasi kesehatan, punya peran krusial untuk tidak menutup mata. Bagaimana caranya agar tenaga medis potensial di negara-negara krisis seperti Yaman ini merasa aman dan dihargai? Bagaimana agar mereka tidak terpaksa memilih antara panggilan nurani dan kelangsungan hidup keluarga?
Bukan Sekadar Angka, Tapi Potret Kemanusiaan
Angka 20 juta warga Yaman yang terancam kesulitan berobat itu mencengangkan. Tapi lebih dari itu, di baliknya ada cerita personal yang jauh lebih menyentuh. Ada ibu yang terpaksa merawat anaknya dengan ramuan tradisional karena tak ada dokter. Ada lansia yang penyakit diabetesnya makin parah karena akses insulin terputus. Ada bayi yang lahir prematur tanpa inkubator memadai.
Saya jadi teringat pernah melihat dokumenter tentang puskesmas di pelosok Indonesia yang kekurangan dokter. Pasien harus antre berhari-hari. Giliran bertemu dokter, waktunya sangat singkat karena harus melayani banyak orang. Kalau di Indonesia saja sudah terasa berat, apalagi di Yaman yang kondisinya jauh lebih ekstrem. Ini menandakan bahwa ketersediaan tenaga medis yang memadai adalah fondasi dasar dari pelayanan kesehatan yang merata.
Jadi, ketika kita membaca berita tentang Yaman, jangan hanya berhenti pada angka. Coba rasakan denyut kemanusiaan di baliknya. Bagaimana nasib mereka yang tertinggal? Apakah ada cara agar para ‘pahlawan’ tanpa tanda jasa ini bisa kembali lagi, atau setidaknya ada dorongan agar mereka yang bertahan mendapatkan dukungan penuh? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menggelayuti benak saya.
Baca juga:
Leave a Reply